Cara Penggunaan Epoxy ( Primer )

Apakah Primer itu ?

Primer adalah bahan yang digunakan untuk dapat melapisan logam yang sebelumya juga sudah di lakukan dalam proses persiapan tahap awal pengecatan dahulu. yaitu :

    Perontokan cat  mobil
    Pembongkaran bagian mobil

Berikut ini adalah yang termasuk primer :

Epoxy Primer

Epoxy Primer juga merupakan bahan untuk dapat melindungi logam dari proses oxidasi dan bersifat tahan air.
Anda juga harus menggunakanya paling tidak sebanyak 1 atau 2 lapis saja.

Bengkel cat juga menggunakan jenis epoxy primer ini sebelum mereka bisa menggunakan bahan lain untuk dapat lapisan berikutnya. Dikarenakan Epoxy Primer ini juga Tahan terhadap air maka berfungsi juga untuk :

    Melindungi bahan yang telah terbuat dari logam dari karat
    Melekat sangat bagus pada logam dan akan menghasilkan lapisan dasar yang sempurna untuk proses pengecatan.

Epoxy Surfacer

Epoxy Surfacer telah digunakan untuk dapat melindungi lapisan cat dasar dari bermacam-macam bahan dan pengencer yang terdapat pada produk lapisan atas dan telah memberikan daya lekat yang tinggi. Epoxy Surfacer juga dapat membantu pencapaian kesamaan warna mixing colour pada pengecatan.

Apabila anda akan mengecat diatas cat lama, sangat dianjurkan untuk menggunakan epoxy surfacer ini. ( setelah proses pengamplasan dan degreaser terlebih dahulu )
Akan lebih penting lagi apabila anda tidak mengetahui seberapa bagusnya kualitas cat yang lama untuk dapat ditindih atau dilakukan repaint.

Epoxy Surfacer juga merupakan pilihan produk yang sangat bagus pada saat anda harus menindih cat original mobil yang mana telah di finishing dengan menggunakan pengecatan sistem oven dengan suhu extreme panas.

Lapisan cat original ini juga mempunyai permukaan yang sangat keras dan tahan lama. Oleh sebab itu cat baru yang akan diaplikasikan diatasnya juga harus bekerja keras untuk membaur dan melekat dengan baik diatas cat original.

Menggunakan Epoxy Surfacer juga akan memberikan sentuhan dan perbedaan antara ala kadarnya dan kualitas pengecatan yang sempurna ( maksimal ).

Pastikan anda telah mendiskusikan penggunaan dan pemilihan produk jenis epoxy ini dengan bengkel anda.
Anda juga harus menggunakan panduan dan informasi cara pencampuran perbandingan epoxy yang di sarankan oleh produsen masing - masing produk.

Saat lapisan logam telah menggunakan epoxy primer, primer akan dapat menutup lubang kecil dan guratan amplas pada permukaanya.
Pastikan anda juga menggunakan produk primer yang sama dari produk cat yang akan anda gunakan nantinya.

Kepadatan Primer juga telah mempunyai kemampuan untuk menutup kekurangan pada lapisan dan dapat memberikan lapisan yang bisa di amplas sampai benar-benar halus.

Ingatlah bahwa primer hanya digunakan untuk permukaan yang yang perlu ditutup seperti pada lubang, pori. guratan yang sangat kecil.

Untuk proses terakhir penggunaan primer ini adalah penggunaan cat dasar diatasnya yang bertujuan untuk :

    melapisi  permukaan bahan epoxy dari proses penyerapan bahan thinner
    Meningkatkan daya rekat ke semua produk cat yang akan diaplikasikan diatasnya.

Pastikan anda juga menyiapkan amplas yang cukup untuk dapat menghaluskan primer setelah diaplikasikan. Gunakan amplas basah dan kering ukuran 800.

Epoxy Primer dan Surfacer biasanya tidak memerlukan proses pengamplasan, kecuali hasil aplikasi anda tidak rata dan tidak sempurna maka pengamplasan juga harus dilakukan.

Boleh juga dengan menggungkan epoxi primer untuk dapat menghilangkan cat lama dan keropos pada lapisan logam, Atau dengan langsung menggunakan dempul baru kemudian menggunakan epoxy primer.

Untuk pengecatan baru, idealnya permukaanya juga harus sudah dipersiapkan untuk ditimpa dengan cat yang baru.
Untuk panel yang tergores, anda hanya diharuskan mengisolasi ( masking ) area yang tidak diaplikasikan epoxy. Setelah proses penggunaan epoxy surfacer selesai anda dapat langsung mengecatnya. Pastikan anda harus mengikuti petunjuk cara pemakaian dari produk.

Apabila hanya beberapa bagian dari panel yang akan di epoxy, Pastikan anda harus menggunakan masking yang lebar ( kertas koran bekas ) untuk dapat melindungi bagian lain supaya tidak terkena cipratan semprotan epoxy.

Gunakan tekanan angin yang paling kecil yang direkomendasikan produk, dan semprotkan secara perlahan pada saat menutup goresan atau luka pada spot area. Lepaskan picu semprotan spraygun segera setiap kali setelah anda melewati spot area tersebut. - Reviewer: tokocatmobil lima - ItemReviewed: Cara Penggunaan Epoxy ( Primer )

Editor : Dian Sukmawati


Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

Tribute for a Roller Hockey Warrior

Artikel lainnya »